PERAN DAN PENGARUH TOKOH DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

Peran dan Pengaruh Tokoh dalam perspektif Iman Kristen


(sumber: google image)

Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Saat dia memperoleh apa yang diinginkan, maka timbullah keinginan untuk mencapai hal yang lebih besar dari sebelumnya.  Hal ini dapat dilihat dari salah satu tokoh diktator yaitu Benito Mussolini.

Benito adalah seorang diktator, dimana orang-orang mulai mengenalnya saat Benito menjadi editor sosialis yang bernama La Cotta Di Classe (kelas perjuangan), dia sering menggerakkan massa untuk melakukan demonstrasi penentangan harga barang-barang pokok yang tinggi (Zazuli, 2009). Dia memiliki keinginan yang sangat besar untuk menjadi penguasa Italia dan melakukan segala hal untuk mencapai keinginan tersebut. Dia berusaha mempropaganda masyarakat untuk mengikutnya dan melakukan perang. Dengan demikian keinginannya untuk memperluas kekuasaan Italia semakin tercapai. Tidak berhenti disitu saja, dia juga ingin agar Italia menjadi penguasa dunia serta mulai melakukan indoktrinasi terhadap rakyat dan anak-anak.

Tuhan tidak menyukai manusia yang tamak. Alkitab menulis orang yang tamak sama saja dengan orang yang menyembah berhala. Selama kepemimpinan Mussolini, dia selalu ingin melakukan perang dengan tujuan memperluas kekuasaan Italia. Tidak berhenti disitu, Mussolini juga kemudian menginginkan agar Italia menjadi penguasa dunia. Mussolini terpaku pada keinginannya sendiri tanpa memikirkan rakyat yang dipimpinnya. Mussolini juga seorang atheis, ia memerintahkan serangan brutal ke pedeta dan gereja setelah mengetahui ketidaksetujuan Paus atas tindakannya (Archer, 2007). Namun kekuasaanya tidak bertahan lama dan kemudian berujung kepada dikeluarkannya konspirasi penggulingan Mussolini.

Kisah Benito dipakai Tuhan untuk mengingatkan kita bahwa peperangan bukanlah cara paling baik dalam pemerintahan. Keputusan untuk melakukan perang melawan pasukan sekutu membuat Benito kalah dan menyebabkan Italia dalam posisi terjepit. Namun kekalahan ini justru dirayakan oleh rakyat Italia dan dimanfaatkan untuk menggulingkan jabatan Mussolini.

Sepatutnya sebagai manusia yang sadar telah ditebus, kita seharusnya menghidupi anugerah keselamatan yang telah Allah berikan. Salah satu contohnya sebagai pemimpin. Jabatan sebagai pemimpin seharusnya digunakan untuk membawa rakyat hidup damai, rukun, dan terlebih lagi mengenal Tuhan.

Benito Mussolini sejak kecil telah mempunyai keinginan untuk menguasai Italia. Keinginan tersebut bukan hanya sekedar keinginan, namun diwujudkan dengan tindakan nyata. Kerja kerasnya kemudian semakin lama semakin menunjukkan hasil yang semakin baik. Benito Mussolini kemudian menjabat sebagai perdana menteri pada usianya yang masih terbilang muda. Usianya yang masih muda tidak membuatnya lantas merasa rendah dan merasa tidak mampu. Kisah ini mengingatkan kita pada Amsal 23:18 “karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”. Kadang sebagai orang percaya, kadang kita berpikir untuk pasrah akan masa depan serta menyerahkan masa depan kita begitu saja tanpa mengusahakannya. Benito Mussolini seorang ateis, namun dia tau jika segala sesuatu itu harus diraih dengan kerja keras. Sebagai orang percaya seharusnya kita juga pekerja keras seperti Mussolini, hanya saja ada sedikit perbedaan. Benito Mussolini bekerja keras dengan mengandalkan kekuatannya sendiri dan untuk kemegahannya sendiri sedangkan bagi orang percaya, selain bekerja keras, semuanya juga harus diserahkan kepada Tuhan dan segala kerja keras harus berujung pada memuliakan Tuhan.

Referensi
Archer, J. (2007). Kisah para diktator, biografi politik para
penguasa fasis, komunis, despotis dan tiran. (D. AS, Trans.)
Yogyakarta: NARASI.
Kesselman, M., dkk. (2009). European politics in transition (6 ed.). Boston, New York: Houghton Mifflin Company.
Zazuli, M. (2009). 60 tokoh dunia sepanjang masa. Yogyakarta:
NARASI.

Komentar

  1. Mantap...

    Semoga artikelnya dapat bermanfaat bagi orang sekitar

    BalasHapus
  2. wah ternyata sikap tokoh sejarah terdapat teladan di dalam alkitab ya. Sangat menambah wawasan sekali. Terimakasih. 🙏

    BalasHapus

Posting Komentar